Sabtu, 11 Oktober 2014

I'm waiting for you

I'm Waiting for you

     Ketika mentari  bersinar, bersama dengan sinarnya
        Terbesit untuk nyeri yang dalam, meringis
        Ada rasa takut, bercampur rasa sedih
       Tiap-tiap detik yang melangkah selalu bersama dengan airmata
       Tangisan tak dapat di tepis, tak dapat dihindari
        Hanya mampu menerima kenyataan dibalik perih
       Meratapinya bersama dengan  sinar matahari pagi

        Aku menyenderkan diri dibalik harapan yang palsu
        Entah kenapa aku tak pernah ikhlas untuknya
        Untuk pergi bersama orang lain, untuk tetap hidup
        Aku ingin kebahagiaan, bukan selalu menunggu
        Menantimu bersama nafas yang hampir saja habis
        Iingin kuterpis arti semua in, namun cinta itu
       Cinta itu menuntun kembali untuk bersamamu lagi, menunggumu lagi
       
        Aku mencintaimu, bersama dengan harapan menunggu 
       Menantimu dengan semua cinta yang datang
        Namu apalah dayaku untuk semua perasaan ini
        Tak banyak yang bisa kulakukan untukmu 
        Hanya menunggu, berharap kamu akan untukku
         Menunggumu hampir sama seperti menunggu bintang terbit di siang hari.
        MUSTAHIL !

Senin, 11 Agustus 2014


Bertanya........

Bermain diatas sepoi-sepoi angin malam.......
Membuat bimbang menusuk didada........
Ada perasaan yang hambar dan gelisah........
Kadang sulit untuk menghapusnya........

Mungkinkah semua indah?.......
Akan jadi apakah aku nanti?......
Bisa atau tidakkah aku membahagiakan mereka?......
Panjangkah umurku?.....

Dunia ku kejam, diselimuti oleh masalah......
Dililit oleh semua prahara didada..........
Mungkinkah semua akan indah pada waktunya?.......
Terus terang, aku takut sangat takut.......

Sabtu, 09 Agustus 2014

penulisgagal


Menantimu

Setiap  badan ini merangkak........
Kadang harus merasakan rajaman pahit......
Ditelan oleh setetes keringat tercucur.......
Tat kala aku tetap menunggu........
Mentari telah padam........
Bulan telah pergi..........
Siang menghitam pekat.........
Malam menyinari putihnya.........
Butiran pasir menyirami pelipisku.........
Tak gentar rasa tetap menanti.........
Dinginnya siang tak halanganku......
Namun kembali lagilah kasih untuk terulang kembali......

Jauh untuk di lupakan

Kuberlari di semak-semak belukar....
Menutupi diri dengan mantel tebal.....
Diiringi lantunan lagu yang menyesakkan dada.....
Kututup wajahku dengan selendang sutera hitam.....
Kakiku lebih cepat, meninggalkan semua masalalu......
Terus melangkah, namun selalu ditemukan, berlari lagi....
Aku menangis, terjatuh dan menutup mulutku.....
Jauh melangkah, namun masalalu terus mengejar, membakarku.....
Ku bersembunyi dibalik tiap hembusan angin, menangis disana......
Masalalu mengejarku, mencengkramku, pundakku berat sekali.......
Merintih namun tiada yang dengar, marah tiada yang peduli........
Jiwaku merosot di balik semua sesak ini, Jauh untuk melupakan.......
Air mataku membanjiri tiap-tiap pelosok dunia.......
Menyendiri dan tenggelam di air mataku sendiri........